
Nganjuk, 28/10) Bulan Bahasa memiliki keterikatan dengan sejarah kebangsaan Indonesia, terutama semangat Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Melalui ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, para pemuda menegaskan bahwa bahasa Indonesia merupakan rumah bersama bagi masyarakat yang beragam. Bahasa persatuan tersebut tumbuh bukan karena seluruh penduduk Nusantara memiliki bahasa ibu yang sama, melainkan karena terdapat kesadaran untuk membangun jembatan di antara berbagai perbedaan. Semangat tersebut yang coba dibangkitkan kembali oleh MTsN 1 Nganjuk guna meningkatkan kecintaan terhadap bahasa persatuan yakni Bahasa Indonesia.
Mengusung Tema “SEMARAK BULAN BAHASA dalam GEMA LITERASI” kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman MTsN 1 Nganjuk. Kegiatan Bulan Bahasa MTsN 1 Nganjuk kali ini berfokus pada kegiatan Wakaf Buku dan Menulis Bersama seluruh Civitas Akademik MTsN 1 Nganjuk. Kegiatan yang dihelat pada Rabu, 28 Oktober 2026 tersebut dimulai pukul 07:00 WIB dengan dibuka oleh Kepala MTsN 1 Nganjuk Bapak Muh Zuhal.
Beliau menyambaikan “Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling sederhana, oleh karena itu mudah dipahami. Sehingga, perkembangannya sejak pertama kali dinobatkan sebagai bahasa resmi bangsa Indonesia pada 28 Oktober 1928 lewat Sumpah Pemuda begitu pesat.”
“Alasan penobatan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Resmi meskipun banyak bahasa daerah yang ada di Indonesia, seperti Jawa, Bugis, Riau, Aceh, dll itu juga karena mudahnya Bahasa Indonesia untuk dipelajari oleh semua kalangan masyrakat.” pungkas beliau.
Kegiatan dilanjutkan dengan wakaf buku yang dilaksanakan oleh seluruh Civitas Akademik MTsN 1 Nganjuk yang dimulai dari siswa, guru, tenaga kependidikan dan seluruh pegawai.Selanjutnya buku yang diwakafkan tersebut dijadikan buku bacaan umum pada tiap sudut baca di seluruh kelas.
Setelah kegiatan wakaf, dilanjutkan dengan kegiatan Menulis Kolosal Serentak dengan Tema yang telah ditentukan. Seluruh Civitas Akademik melaksanakan kegiatan menulis dengan penuh semangat dan antusias tinggi. Hal ini dibuktikan dengan jumlah karya hasil penulisan sebanyak 920 karya.
Karya-karya tersebut kemudian dipamerkan dan dipajang disepanjang lingkungan madrasah menggunakan tali yang telah disiapkan oleh Panitia.
Kegiatan Semarak Bulan Bahasa ditutup dengan membaca buku dan menulis jurnal sesuai dengan buku yang telah dibaca. Sehingga, dapat menumbuhkan buadaya literasi yang tidak hanya cukup pada membaca. Namun juga fokus pada penguatan pemahaman bahan bacaan yang dibaca. Rendahnya budaya literasi tidak dapat dibebankan semata-mata kepada generasi muda (siswa). Rendahya tingkat keterbacaan dan Literasi merupakan persoalan bersama. Keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan lingkungan digital turut membentuk kebiasaan siswa dalam berhadapan dengan bacaan dan pengetahuan. Siswa yang tumbuh tanpa teladan membaca di rumah akan lebih sulit menjadikan buku sebagai bagian wajar dari kehidupan sehari-hari.
Madrasah yang memperlakukan membaca sebatas tugas dan ujian juga berisiko mengubah kegiatan literasi menjadi beban yang harus diselesaikan, bukan pengalaman yang dinikmati. Kemunduran literasi perlu dihadapi melalui pembenahan lingkungan belajar secara menyeluruh, bukan melalui tudingan yang menyederhanakan persoalan. Akhirnya, melalui perpaduan menulis dan membaca besar harapan MTsN 1 Nganjuk terhadap peningkatan budaya literasi di lingkungan madrasah dapat berkembang secara maksimal. Sehingga membaca bukan lagi sebatas tugas dan ujian melainkan sebuah wisata spiritual yang dapat memunculkan pengalaman tersendiri untuk dinikmati oleh seluruh siswa. Hal ini menjadi penting guna mencetak generasi yang penerus yang cerdas, berkarya, dan berakhlak mulia dengan membina kecerdasan intelektual dan keterampilan literasi. Iroelloh*)